Wawancara
dengan KH. Syarif Rahmat SQ. MA
S: Bagaimana bapak mendifinisikan sosok
pemimpin ideal?
J: Sosok pemimpin
ideal ialah yang mengetahui eranya. Sedangkan, ideal itu sesuai dengan era dan
alam. Alam itu ideal baku dan era ideal waktu. Seorang pemimpin harus mempunyai
ideal baku, yaitu bilisani qoumihi. Dia harus penduduk asli bukan orang
asing. Karena liyubayyina lahum, bisa komunikatif dipahami oleh
rakyatnya. Baik dari sisi kebahasaan, kebudayaan, tradisi dan sebagainya. Jadi,
orang-orang yang tidak memahami Indonesia mulai dari sejarah serta
perkembangannya, maka saya menekankan jangan
sekali-sekali berkeinginan menjadi pemimpin.
Dalam al-Quran disebutkan, walaqod arsalnaa nuuhan ilaa qoumihi.
Wa illa tsamuuda akhohum soolihaa. Wa ilaa madyana akhohum syuaiba. Dari
penggalan ayat-ayat tersebut menggambarkan bahwa pemimpin asli dari komunitas
itu. Seperti nabi Muhammad adalah asli orang
arab.
Sedangkan, saudara itu tidak hanya dalam lingkup agama. Innamal mu’minuunaa
ikwatun. Jika persaudaraan dalam arti sempit mengkerucut, maka itu sebagai
persaudaraan agama. Dan persaudaraan dalam arti lebih lebar dan luas, itu
persaudaraan dalam arti persahabatan. Di Indonesia, mungkin tidak sulit mendapatkan
persaudaraan yang mengkerucut, karena masih banyak saudara yang muslim.
S: Bagaimana
sosok pemimpin yang cocok pada zaman sekarang?
J: Ciri pemimpin
yang hebat, dia yang menguasai pengetahuan sesuai dengan zamannya. Sebagai
contoh Nabi Musa memiliki kehebatan yang luar biasa di zamannya. Yaitu, dia
memiliki tongkat yang hebat, bisa menjadi ular besar. Karena pada zamannya yang
dihadapi adalah para pesihir yang hebat. Dan mereka dikalahkan semuanya. Ketika
pada nabi Daud yang dihadapi orang-orang yang bisa membuat tekhnologi
persenjataan perang. Dan yang diangkat menjadi
pemimpin yang bisa melunakkan besi perang. Isa pada zaman Herodes yang memiliki
skill pengobatan, yang diangkat tidak hanya bisa menyembuhkan orang sakit. Bahkan,
Isa bisa menghidupkan orang mati.
Dalam al-Quran disebutkan bastotan
fil ilmi wal jismi. Tolut diangkat karena keunggulan fisik. Kenapa fisik?
Karena disesuaikan pada zamannya adalah zaman perang. Pada Nabi Muhammad sedang
tenarnya ahli sastra keindahan bahasa, kemudian yang diutus oleh Allah adalah
yang memliki jaamiul kalim yang bisa mengalahkan mereka. Kemudian di
dampingi oleh al-Quran.
Kalau sekarang yang sedang terjadi di Indonesia ini apa? Pada zaman
penjajahan harus bisa berperang tidak hanya baris, atau Jenderal yang hanya di
kantor. Muammar Kadafi saja mengaku sebagai colonel, meskipun dia seorang
presiden. Karena, dia sadar bahwa dia tidak
pernah ikut perang. Jadi, sangat tidak mungkin jika dia menjadi jenderal. Kalau
masanya sedang krisis ekonomi, maka yang diangkat orang yang memiliki ahli di
bidang ekonomi. Seperti nabi Yusuf, meskipun dia masih di penjara, tetapi dia
sudah bisa memecahkan masalah Negara.
Saya mengira kalau tidak ada masalahnya jika kita mengangkat
pemimpin dari penjara. Dengan catatan harus bisa mengatasi masalah Negara. Daripada
dari kantor, tapi tidak karuan kemana arahnya. Kalau zamannya sudah menjadi
disintegrasi, maka kita membutuhkan orang yang memiliki sifat “Bineka Tunggal Ika”.
Coba kita melihat pemimpin
terdahulu. Meskipun, di balik segala kekurangannya sudah bisa dianggap benar. Kemudian
yang terjadi dewasa ini karena anak bangsa tidak memiliki kesabaran. Bukan
karena pemimpinnya tidak benar, atau prosesnya tidak lurus. Tetapi, semangat
perebutan yang memggelora di saat pemimpin sudah ada.
Soekarno dibutuhkan untuk orasi, Suharto dibutuhkan untuk membentuk
Negara. Habibi dibutuhkan untuk menaikkan rupiah. Dia bisa bertarung di skala
internasional. Dan itu hanya Habibi yang dapat menurunkan harga dolar. Gusdur
menjadi presiden sudah habis-habisan disintegrasi, dan selamatlah Aceh. Kalau
Megawati lancarnya transportasi, paling tidak jalan tol Cawang tidak macet. Karena
Megawati itu perempuan, maka tidak aneh kalau yang menjadi pegawai Pom itu
banyak perempuan.
S: Bagaimana
pendapat bapak tetantang pemimpin yang berkiprah di partai Islam yang dewasa
ini sudah membudayakan korupsi?
J: Jika selama
ini hal itu sudah membudaya, maka saya dengan
jelas menegaskan bahwa tidak ada “pemimpin Islam di Indonesia”, yang Islam
hanya partainya. Bagaimana orang itu bisa disebut representasi dari komunitas
Islam? Wong, agama saja tidak mengerti. Bisa dicek, mereka nyaris tidak
mengerti agama. Meskipun ada cuma sedikit.
Dulu pertama kali lahirnya
partai Islam PPP, ulama sudah berkesapakatan untuk tidak memimpin partai. Nah, kemudian
ada orang-orang yang ambisius yang bukan ulama masuk, kemudian memanfaatkan
peran ulama. Pada saat itu luar biasa ketika fenomena itu terjadi. Ada
orang-orang besar yang digunakan untuk membesarkan nama PPP seperti Rhoma
Irama. Pada zaman tahun 77 Rhoma Irama menjadi jurkam PPP yang luar biasa.
Memang dia berasal dari sebuah keluarga yang luar biasa beragama. Meskipun
profesinya sebagai penyanyi atau pedagang.
Sebagai cucunya sultan
Hasanuddin pendiri Jakarta, wajar saja kalau rhoma Irama membela PPP
habis-habisan. Karena, secara ideologi PPP sama dengan Nahdliyin yang sekarang
membuat Fahmi Tamami.
Saya menegaskan bahwa pemimpin yang sadar yaitu yang memiliki akidah
dan agama. tetapi juga sadar terhadap perbedaan agama, atau prularisme. Bukan
berarti membenarkan segala agama. Tetapi, semua agama diakui keberadaannya. Dan
yang berbeda agama diakui sebagai saudara bangsa. Sedangkan, Islam yang kaya
yaitu Islam yang tradisional, sebab
kalau tidak tradisional maka dia setiap hari akan berbenturan dengan umat. Maka
di bagian lain dia yang memiliki pemahaman Islam yang relativisme. Hal itu yang
harus dikuasai, karena harus memahami keragaman.
Satu hal, bangsa ini tidak akan memiliki pemimpin yang baik, selama
mereka sendiri masih buruk. Tidak mungkin lahir dari kandang ayam ada kucing.
Tidak perlu pemimpin gagah, dan memiliki pencitraan. Untuk apa gagah,
penampilannya keren atau ketampanan. Kita ingat Sudirman orangnya kurus, tetapi
menjadi bapak abri. Belum ada yang mengalahkan keberaniannya. Sekarang yang
diharapkan, pemimpin yang asih min anfusikum. Dapat memakmurkan
masyarakat dengan tulus.

